harap pagi dalam secangkir kopi

Di sebuah
pagi menggigil, ketika mentari masih begitu dinanti. Lamunan pagi menemukan
potongan2 ingatan tengah malam layu yang baru saja dilewati.

 

Dihadapan
dapat dilihat seorang perempuan kelabu yang berdiri di perempatan Lampu merah
yang tak pernah menyala pada lampu Hijaunya. Ia bersandar pada tiang Lampu
sambil mengelus perutnya yang membuncit.

 

Sementara diseberang,
seorang Lelaki pekat duduk diujung trotoar dengan kepala tertunduk menyandarkan
kening di jemarinya. Matanya sayu mengurut hitam putih penyebrangan Jalan.

 

Lamunan
membawa dengar pada detak Jantung Lelaki pekat yang berbicara.

 

“Romo,
meski Romo bukan Yahndaku, Ijinkan aku yang ingin bersimpuh ditelapakmu. Aku
memohon bukakan jendela Rumah Romo, biar bisa Romo Lihat besar tresnoku pada si
ndukmu. Gerendel hati si ndukmu kuncinya ada padaku Romo…”

 

Kemudian
disambut dengan bicara perempuan KeLabu.

 

“BetuL
Romo, si ndukmu ini begitu bingung. Perempatan ini membagi jalanku untuk
memilih, sedangkan lampu hijau tak juga menyala untukku. Gerendel hati si ndukmu
ini tak dapat terbuka kecuali dengan kunci di tangannya, Romo…!”

 

Di
keremangan, perempuan keLabu mengulurkan tangan kepada Lelaki pekat di seberang
jalan.

 

Lamunan
tak kubiarkan berhenti di perempatan, karena Lampu yang tak menyala hijau bukan
untukku.

 

Pada
langkah-langkah selanjutnya, lamat-lamat kudengar getir yang menyeruak dari
kejauhan. Lamunan mendekati halte tua, tempat asal getir yang menyeruak, diaman
terdapat seorang Lelaki biru yang tengah duduk diantara dua orang perempuan.

 

Lengan
kanan si Lelaki memeluk erat pinggang perempuan cokelat, sedang jemari tangan
kirinya menggenggam kuat tangan perempuan hijau.

 

Jantung
perempuan cokelat berujar.

 

“Apa tak
ada hakku untuk memilikimu secara utuh? Bukan untuk menguasai, hanya karena memang
seperti itulah seharusnya…”

 

Kemudian
Jantung Lelaki biru berbisik.

 

“Kasih
sayangku sedemikian melimpah, dan aku tak ingin membiarkannya tumpah. Dengan
membaginya tercurah, membuat kasih sayangku bahkan semakin bertambah..”

 

Perempuan
hijau menghela nafas dan bergumam.

 

“Aku sudah
lupa, entah siapa yang terlebih dahulu menanam harap. Tetapi, jika setiap pagi
aku menemukan segelas madu dan senyuman di depan pintu rumahku. Apa salah, jika
kemudian cintaku tumbuh?”

 

Perempuan
cokelat berontak.

 

“Aku ingin
juga Lengan kirimu!!! Atau Lepaskan saja aku…!!”

 

Lelaki
biru mencoba menenangkan.

 

“Aku tak
menyerahkan bagianmu cokelat, hanya memberikan yang tak bermanfaat bagimu. Aku
hanya tak ingin sia-sia tumpah.”

 

Perempuan
Hijau datar berucap.

 

“Dengan
atau tanpa jemarimu di lenganku tak pernah jadi masalah buatku. Lagi pula aku
telah lupa siapa yang pertama kali menanam harap. Jika besok pagi tak kutemukan
segelas madu dan senyuman di depan pintuku, tak pernah menjadi masalah. Tetapi apabila setiap kali datang pagi dan
aku memang menemukannya selama ini. Apa lantas memang aku yang jadi salah?”

 

Sepertinya
harus aku cukupkan waktu lamunan di halte tua dan tiga getir yang tengah duduk
dibawahnya.

 

Aku
kemudian melanjutkan langkah, sebelum gundah juga berusaha merusakku.

 

Hingga
sampai aku pada tanah lapang dengan hanya satu pohon waru besar yang tumbuh
ditengahnya dan bebatuan. Dimana seorang perempuan putih duduk diatasnya.

 

Mukanya
pucat, terlihat Lelah seperti tak pernah tidur selama berpuluh tahun.
Pandangannya tak lepas kearah timur, seperti menunggu sesuatu muncul dari celah
dua bukit gamping dihadapannya.

 

Lamunan
mencari bicara dari jantungnya. Dengan hening yang begitu teramat, tak juga aku
temukan suara. Aku mencoba mendekat, namun tak juga kudapati meski sekedar
gumam.

 

Aku
mencoba untuk bertanya, ini kali pertama aku berbahasa malam ini.

 

“Maaf
puteri, boleh aku bertanya? Denganmu aku ingin bertukar bicara. Dari
pandanganku, sepertinya puteri tengah menanti sesuatu, atau seseorang?”

 

Perempuan
Putih tak juga bersuara, ia hanya meletakkan telunjuk dibibirnya yang terkatup,
kemudian mengarahkan telunjuknya ke celah bukit gamping.

 

“Maaf
puteri, bukan hendak aku mengganggumu. Akan tetapi perilaku puteri demikan
menggangguku!?”

 

Bibir
perempuan putih yang tadinya terkatup mulai terbuka, dengan begitu lembut ia
berbicara. Sedang pandangannya tak berpaling sedikitpun dari arah semula.

 

“Aku bukan
puteri, yang tengah kunanti adalah Lelakiku, Lelaki matahari. Ia pernah muncul
dahuLu dari arah timur sana. Tepat dari celah terjal bukit gamping didepan sana
turun menemuiku. Menanam pohon waru ini untuk tempat meneduhku, dan
mengumpulkan bebatuan ini untuk tempat berpijak dan istirahatku. Tak ada waktu
yang tak kami lewati bersama. Tak ada jengkal tanah lapang ini yang tak kami
tinggalkan padanya jejak berdampingan. Dan kalau kau ingin tahu, warna putihku
ini adalah bekas tetes airmatanya. Ketika kemudian dia pergi kearah barat sana.
Dan menyuruhku tetap menanti dia kembali dari arah timur sana!”

 

Lamunanku
kembali bertanya.

 

“Apa kau
tak lelah?”

 

Seketika
jawabnya.

 

“Lelah?!
Kau tau entah telah berpuluh tahun aku tak pernah tidur semenjak lelakiku
pergi, meski disini selalu saja malam? Aku telah lupa rasa Lelah. Aku hanya
begitu takut jika aku tertidur, kemudian pagi datang bersama lelakiku. Dan ia
tak menemukan aku terjaga dalam menantinya. Jadi lebih Aku tak mengingat
Lelah…!”

 

Aku
semakin penasaran.

 

“Apa yang
membuatmu demikian?! Airmatanya, pohon waru dan bebatuan darinya, tiap waktu
yang kau lalui bersamanya atau tiap jengkal tanah lapang ini yang kau ukirkan
jejak berdampingan bersama dengannya? Apakah kau mencintainya?”

 

Dengan
senyum lembut perempuan putih memberikan jawabnya.

 

“Aku
mencintai caranya mencintaiku…!!!”

 

Entah
mengapa, aku terlarut dan membalas senyumnya. Aku terperanjat, cahaya keemasan
menyeruak dari arah timur. “Lelaki matahari?” Aku mencoba mencari tahu dari
mana asal cahaya keemasan itu, namun tak kutemukan celah dan dua bukit gamping
disana. Perempuan putih, pohon waru, bebatuan dan tanah lapang pun tak ada.
Yang kutemukan hanya jalanan teras depan rumahku, dan pagi yang mulai hangat
tak lagi menggigil. Matahari yang dinanti telah terbit di timur jauh sana.

 

Hmm, lebih
baik kuteguk kopi hangat dicangkirku saja. Sambil menunggu, mungkin Romo menyalakan
lampu hijaunya. Atau getir yang melekat, sedikit demi sedikit sirna. Lagipula,
matahari yang kemarin pergi saja, hari ini datang kembali. Selalu ada harap,
ditiap teguk kopi hangat pagi…. 

One Response to “harap pagi dalam secangkir kopi”

  1. Amara Says:

    Well said.

Leave a Reply