Archive for January, 2008

harap pagi dalam secangkir kopi

Friday, January 25th, 2008

Di sebuah
pagi menggigil, ketika mentari masih begitu dinanti. Lamunan pagi menemukan
potongan2 ingatan tengah malam layu yang baru saja dilewati.

 

Dihadapan
dapat dilihat seorang perempuan kelabu yang berdiri di perempatan Lampu merah
yang tak pernah menyala pada lampu Hijaunya. Ia bersandar pada tiang Lampu
sambil mengelus perutnya yang membuncit.

 

Sementara diseberang,
seorang Lelaki pekat duduk diujung trotoar dengan kepala tertunduk menyandarkan
kening di jemarinya. Matanya sayu mengurut hitam putih penyebrangan Jalan.

 

Lamunan
membawa dengar pada detak Jantung Lelaki pekat yang berbicara.

 

“Romo,
meski Romo bukan Yahndaku, Ijinkan aku yang ingin bersimpuh ditelapakmu. Aku
memohon bukakan jendela Rumah Romo, biar bisa Romo Lihat besar tresnoku pada si
ndukmu. Gerendel hati si ndukmu kuncinya ada padaku Romo…”

 

Kemudian
disambut dengan bicara perempuan KeLabu.

 

“BetuL
Romo, si ndukmu ini begitu bingung. Perempatan ini membagi jalanku untuk
memilih, sedangkan lampu hijau tak juga menyala untukku. Gerendel hati si ndukmu
ini tak dapat terbuka kecuali dengan kunci di tangannya, Romo…!”

 

Di
keremangan, perempuan keLabu mengulurkan tangan kepada Lelaki pekat di seberang
jalan.

 

Lamunan
tak kubiarkan berhenti di perempatan, karena Lampu yang tak menyala hijau bukan
untukku.

 

Pada
langkah-langkah selanjutnya, lamat-lamat kudengar getir yang menyeruak dari
kejauhan. Lamunan mendekati halte tua, tempat asal getir yang menyeruak, diaman
terdapat seorang Lelaki biru yang tengah duduk diantara dua orang perempuan.

 

Lengan
kanan si Lelaki memeluk erat pinggang perempuan cokelat, sedang jemari tangan
kirinya menggenggam kuat tangan perempuan hijau.

 

Jantung
perempuan cokelat berujar.

 

“Apa tak
ada hakku untuk memilikimu secara utuh? Bukan untuk menguasai, hanya karena memang
seperti itulah seharusnya…”

 

Kemudian
Jantung Lelaki biru berbisik.

 

“Kasih
sayangku sedemikian melimpah, dan aku tak ingin membiarkannya tumpah. Dengan
membaginya tercurah, membuat kasih sayangku bahkan semakin bertambah..”

 

Perempuan
hijau menghela nafas dan bergumam.

 

“Aku sudah
lupa, entah siapa yang terlebih dahulu menanam harap. Tetapi, jika setiap pagi
aku menemukan segelas madu dan senyuman di depan pintu rumahku. Apa salah, jika
kemudian cintaku tumbuh?”

 

Perempuan
cokelat berontak.

 

“Aku ingin
juga Lengan kirimu!!! Atau Lepaskan saja aku…!!”

 

Lelaki
biru mencoba menenangkan.

 

“Aku tak
menyerahkan bagianmu cokelat, hanya memberikan yang tak bermanfaat bagimu. Aku
hanya tak ingin sia-sia tumpah.”

 

Perempuan
Hijau datar berucap.

 

“Dengan
atau tanpa jemarimu di lenganku tak pernah jadi masalah buatku. Lagi pula aku
telah lupa siapa yang pertama kali menanam harap. Jika besok pagi tak kutemukan
segelas madu dan senyuman di depan pintuku, tak pernah menjadi masalah. Tetapi apabila setiap kali datang pagi dan
aku memang menemukannya selama ini. Apa lantas memang aku yang jadi salah?”

 

Sepertinya
harus aku cukupkan waktu lamunan di halte tua dan tiga getir yang tengah duduk
dibawahnya.

 

Aku
kemudian melanjutkan langkah, sebelum gundah juga berusaha merusakku.

 

Hingga
sampai aku pada tanah lapang dengan hanya satu pohon waru besar yang tumbuh
ditengahnya dan bebatuan. Dimana seorang perempuan putih duduk diatasnya.

 

Mukanya
pucat, terlihat Lelah seperti tak pernah tidur selama berpuluh tahun.
Pandangannya tak lepas kearah timur, seperti menunggu sesuatu muncul dari celah
dua bukit gamping dihadapannya.

 

Lamunan
mencari bicara dari jantungnya. Dengan hening yang begitu teramat, tak juga aku
temukan suara. Aku mencoba mendekat, namun tak juga kudapati meski sekedar
gumam.

 

Aku
mencoba untuk bertanya, ini kali pertama aku berbahasa malam ini.

 

“Maaf
puteri, boleh aku bertanya? Denganmu aku ingin bertukar bicara. Dari
pandanganku, sepertinya puteri tengah menanti sesuatu, atau seseorang?”

 

Perempuan
Putih tak juga bersuara, ia hanya meletakkan telunjuk dibibirnya yang terkatup,
kemudian mengarahkan telunjuknya ke celah bukit gamping.

 

“Maaf
puteri, bukan hendak aku mengganggumu. Akan tetapi perilaku puteri demikan
menggangguku!?”

 

Bibir
perempuan putih yang tadinya terkatup mulai terbuka, dengan begitu lembut ia
berbicara. Sedang pandangannya tak berpaling sedikitpun dari arah semula.

 

“Aku bukan
puteri, yang tengah kunanti adalah Lelakiku, Lelaki matahari. Ia pernah muncul
dahuLu dari arah timur sana. Tepat dari celah terjal bukit gamping didepan sana
turun menemuiku. Menanam pohon waru ini untuk tempat meneduhku, dan
mengumpulkan bebatuan ini untuk tempat berpijak dan istirahatku. Tak ada waktu
yang tak kami lewati bersama. Tak ada jengkal tanah lapang ini yang tak kami
tinggalkan padanya jejak berdampingan. Dan kalau kau ingin tahu, warna putihku
ini adalah bekas tetes airmatanya. Ketika kemudian dia pergi kearah barat sana.
Dan menyuruhku tetap menanti dia kembali dari arah timur sana!”

 

Lamunanku
kembali bertanya.

 

“Apa kau
tak lelah?”

 

Seketika
jawabnya.

 

“Lelah?!
Kau tau entah telah berpuluh tahun aku tak pernah tidur semenjak lelakiku
pergi, meski disini selalu saja malam? Aku telah lupa rasa Lelah. Aku hanya
begitu takut jika aku tertidur, kemudian pagi datang bersama lelakiku. Dan ia
tak menemukan aku terjaga dalam menantinya. Jadi lebih Aku tak mengingat
Lelah…!”

 

Aku
semakin penasaran.

 

“Apa yang
membuatmu demikian?! Airmatanya, pohon waru dan bebatuan darinya, tiap waktu
yang kau lalui bersamanya atau tiap jengkal tanah lapang ini yang kau ukirkan
jejak berdampingan bersama dengannya? Apakah kau mencintainya?”

 

Dengan
senyum lembut perempuan putih memberikan jawabnya.

 

“Aku
mencintai caranya mencintaiku…!!!”

 

Entah
mengapa, aku terlarut dan membalas senyumnya. Aku terperanjat, cahaya keemasan
menyeruak dari arah timur. “Lelaki matahari?” Aku mencoba mencari tahu dari
mana asal cahaya keemasan itu, namun tak kutemukan celah dan dua bukit gamping
disana. Perempuan putih, pohon waru, bebatuan dan tanah lapang pun tak ada.
Yang kutemukan hanya jalanan teras depan rumahku, dan pagi yang mulai hangat
tak lagi menggigil. Matahari yang dinanti telah terbit di timur jauh sana.

 

Hmm, lebih
baik kuteguk kopi hangat dicangkirku saja. Sambil menunggu, mungkin Romo menyalakan
lampu hijaunya. Atau getir yang melekat, sedikit demi sedikit sirna. Lagipula,
matahari yang kemarin pergi saja, hari ini datang kembali. Selalu ada harap,
ditiap teguk kopi hangat pagi…. 

“Masa LaLu” sebuah testiMoni

Tuesday, January 1st, 2008

 

Kenangan itu:

“Kek manisan
empedu yang secara sengaja atau enggak kesimpen di lemari es otak kita. Rasa
Pahit sama Manisnya kecampur. Ga ngerti juga, apakah empedu yang coba dibuat
manis, atau gula yang coba dibuat pahit?”

 

Saudara gw
(mr “T”) pernah nanya hal simple yang serupa kek gw tulis diatas. “Kenapa yah,
kenangan itu terkadang pahit, tapi kita ngerasa manis buat ngingetnya, atau
kadang juga kenangan manis itu, jadi terasa pahit kalau diinget?”

 

Gw pengen
nulis ini udah Lama sebenernya, tapi baru terlaksananya sekarang ajah. Dan
sebenernya sama sekali bukan gw mencoba mengaitkan tulisan ini dengan Tahun
baru 2008 yang baru aja dimasuki pintunya. Karena actually gw bukan pemuja
pergantian tahun sebagai sebuah moment penting, kecuali sebagai sebuah pengulangan
angka yang berputar di hidup manusia. Sama aja seperti ketika setelah tanggal
28 or 29 or 30 or 31 bisa dipastikan kita ketemu angka 1 lagi. Seperti juga
setelah Desember, ketemu januari. Penambahan angka tahun yang berarti
berkurangnya hak yang manusia miliki. Dan berkaitan dengan tulisan ini, angka
31 pada tiap akhir bulan adalah masalalu bagi angka satu pada awal bulan
selanjutnya, yang setiap pengulangan tersebut terakumulasi sebagai masa lalu
bagi tahun berikutnya. Seperti deret angka yang satu bagian sebelumnya adalah
masalalu bagi angka dibagian selanjutnya. Angka 2 adalah masa lalu angka 4.
angka 4 ini yang berada setelah angka 2 merupakan masa depan yang bisa ditempuh
dengan melalui jalur dua angka 2 yang
dijumlahkan, meski mungkin angka 4 yang lainnya bisa terbentuk dari masa lalu
dari empat angka 1 yang bergabung. Atau satu angka 4 yang berdiri sendiri.

 

Masa Lalu
bagi seseorang, adalah sesuatu yang dibawa dalam hidupnya. Kita seperti
sekarang ini tidak dapat terlepas dari waktu-waktu yang sudah dilewati pada
masa sebelumnya. Para Freudian bilang, perilaku seseorang itu adalah hasil dari
apa yang diterimanya dari masa lalu. Seperti juga dikatakan dalam teori tabula
rasa, jiwa itu adalah kertas putiH, yang nantinya diisi dengan coretan2. coretan2
ini lah yang kemudian disebut masa lalu.

 

Kalau kita
mu berbicara tentang masa lalu, lebih simpelnya ketika kita melihat sebuah
daftar riwayat hidup atau curriculum vitae yang biasa dipakai untuk melamar
pekerjaan. CV itu juga merupakan rangkuman dari masalalu seseorang.

Sekolah

SD

sampai perguruan tinggi dimana? Lahir dimana dan kapan? Pengalaman organisasi,
pengalaman bekerja. Sampai2 ketika gw sendiri ngebaca CV gw, gw jadi menyadari
sesuatu. Jadi ini coretan2 yang dimaksud dari tabula rasa. Kita yang memilih
melakukan sesuatu, atau orang lain memilihkan kita untuk melakukan sesuatu. Dan
hasil akhirnya adalah masa lalu yang kita sebutkan ketika kita berdiri di
langkah selanjutnya. 

 

Berikut ini
gw rangkumin beberapa testi dari temen2 dan sodara gw yang nyempetin waktu buat
berkomentar tentang masa lalu :

 

NengLinaku

“Yang pasti,
masa lalu aku, ga ngaruhin perasaan aku yang sekarang, karena emang udah
berubah n ga perlu balik lagi. Kalau namanya udah masa lalu, berarti emang udah
berlalu perasaannya.”

 

TeH Ochi

 “mencermati masa Lalu akan membuat setiap
manusia memahami, bahwa sebenar-benarnya mencintai adalah dengan iLmu. Orang2
akan datang dan pergi dalam hidup kita. Rasa kehilangan akan datang silih
berganti. Dengan iLmu, kita bisa mengendalikan hati untuk tulus menerima
takdirNya, seburuk apapun itu. Semua tak lain adalah proses yang kita jalani
untuk menjadi lebih dewasa dan bijaksana.”

 

Ei
Nendissa

 “Masa Lalu..?? I think it waZ Time wHen Learn
2 b as I aM noW… Ribet Ya ?? Gw aja ga ngerti ¿? Hehehe…”

 

iTho

“masa Lalu itu
indah walaupun ada aja masa lalu yang buruk, ya itulah masa lalu yang ada
sebagian engga bisa gw lupa. Tapi itu semua dah berlalu dan itu engga akan bisa
terulang lagi, yang bisa hanya dikenang aja.”

 

Citrasymi

 “Masa lalu itu bagian yang menentukan hari ini
n’ esok, awal dari kehidupan, bagian yang membentuk diri kita hari ini n’ esok
hari, dan masa lalu adalah kenangan n’ pelajaran hidup. Hehehe.. kebanyakan.”

 

AlFin

 “masa lalu tuh sebuah pembelajaran sampai gw
seperti sekarang ini dan dibawa untuk menuju masa depan yang lebih baik. Disana
terdapat kenangan yang nggak ada tapi ada. Hampa tapi berwujud. Dikejar tak
didapat, didapat tak tersimpan dan tersimpan tapi tak tertangkap.”

(sepupu gw
yang satu ini berusaha keras untuk mencoba berfilsafat dan berkata2 indah.
Meski pada akhirnya dia dengan polos dan jujur mengakui bahwa dia sebenernya
tidak tau apa yang dia bilang?! Tapi gw tau kok apa yang lo maksud, terlebih
lagi apa yang lo rasain bro!! Ngngng…)

 

Widia na
Akim

“masa lalu
adalah kenangan yang bisa dijadiin pengalaman yang paling berharga, bisa
dijadiin pembelajaran juga bwt d masa depan, tapi masa lalu g boleh d Lupain
justru hrs dikenang, biar kehidupan masa lalu yang emang pait g keulang d masa
depan…. Jadi biar kehidupan masa depan lebih baik daripada masa lalu.. yang
masa Lalu biar jadi kenangan yang berharga aja & cukup buat dikenang aja
jangan diulang.”

 

Icha

Om

iYan jeleeeekz…… !!!”

(Lah, ini
testi tentang masa lalu kok malah jadi ajang buat mempublikasikan kejelekan gw?
Ichaaaaa…. Kamu bakalan susah buat nemuin oM seBaik

Om

iYan tauuuk!? Hehe…)

 

Hakim
MauL

 “Masa yang sudah lewat ga bisa diulang,, masa
lalu ada yang sifatnya indah sangat berkesan bagi gw, ada juga yang bersifat buruk,
bagi gw masa lalu adalah pelajaran berharga karena berbagai pengalaman baik dan
buruk telah gw alami, kalau yang buruk akan gw perbaiki dimasa yang akan
datang.”

 

Ardani

“ Ga tau,
males ah, gw gak mau nulis…”

(???)
(maapin ponakan gw yang satu ini yaH!!!)

 

Dayat
tukang Komputer

“ Masa Lalu
??? Haaah, CuMen”

(CuMen tuh
kata2 khas daYat yang maksudnya adalah singkatan Lucu Nemen, yang artinya Lucu
Banget… untuk menunjukan ekspresi ga nerima atau “apasih maksudnya?”. Kira2
gituH, kalo masih bingung Tanya dayat aja deh, tuh orangnya ada..)

 

RagiL
Hamdani bumiaYu

“angger ora
ngomong tentang masa lalu kayong awake pada pegel2. dadi masa lalu tah

wis

biasa sedina2 bae..”

(artinya,
“kalo gak ngomongin masa lalu tuh sepertinya badan pada pegel2. jadi masa lalu
tuh udah biasa sehari-hari ajaH…” testi yang aneH?!)

 

Maz JamaL

Komentar
abang gw yang satu ini tentang Masa Lalu sangat simple :

Wis

Rampung, Gari Madep
Ngarep!!!…”

(artinya :
“Sudah selesai, tinggal menghadap ke Depan!!!…”)

 

 

Buat setiap
orang, masalalu tuh mempunyai arti dan makna tersendiri, demikian juga cara dan
pandangan untuk menyikapinya. Masa Lalu bisa dilihat dari apa yang akhirnya
jadi melekat di diri kita, bisa juga buat mengukur seberapa banyak waktu,
tenaga, fikiran dan perasaan udah kita habiskan. Waktu kita semakin habis dalam
proses mengguratkan coretan2 masa lalu itu. Seperti yang Mungkin mas jamal
begitu simple sebutkan tentang masa lalu, ingin menyampaikan pesan bahwa, waktu
kita sebagai manusia kedepan itu berarti semakin sedikit dan berkurang, jadi
gak perlu berkutat dengan masa lalu, tapi bagaimana melangkah ke depan yang
utama. Beberapa testi bilang tentang adanya belajar, pengaruh dan ga pengaruh,
perlu disimpan dan ga perlu disimpan, baik dan buruk, berharga dan harus
dibawa. Sepertinya begitu kompleks masalalu buat tiap individu. Yang jelas
masalalu manusia pastinya nggak seperti cicak yang hanya berkejar-kejaran di
dinding tau-tau tua. Tiba-tiba datang seekor nyamuk, haPP !!! Lalu
ditangkap..?! Atau se-standar bunga matahari yang kerjaannya Cuma mengikuti gerak
matahari. Atau se-simple anak kucing yang berputar-putar dan berguling2
memburu, tapi tak pernah dapat menangkap ekornya sendiri.

 

Kalau buat
gw sendiri, masa lalu itu adalah setiap tarikan nafas sebelum hembusan nafas
dan setiap hembusan nafas sebelum tarikan nafas.

Yang perlu
disikapi adalah dengan apa dan bagaimana kita sampai pada serta melanjutkan
hembusan atau tarikan nafas berikutnya.

 

Karena
sebenarnya :

 

“Demi masa,
sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi”